Pada mulanya
plot pada penggarapan cerita Topeng Blantek digarap secara lisan. Plot ini
bermula dan plot lisan atau hanya menjelaskan konsep dari mulut-kemulut. Kemudian
sering berkembangnya zaman, ada beberapa teater rakyat yang sudah menggunakan
plot tertulis. Tetapi para seniman
tradisional tidak mau mengenal naskah yang sudah tertulis dan ada
dialognya. Apabila pemain diberikan naskah, maka naskah tersebut kurang
efektif, bahkan hanya dilihat dan dipegang saja, naskah tersebut tidak akan
dihapal dan dibaca. Sebab jika terpaku dengan naskah tertulis,
hal itu hanya membuat para pemain merasa dibatasi kreatifitasnya dan terkekang
dalam berimprovisasi. Di dalam plot tersebut
terdapat adegan atau bagian-bagian cerita yang didalangi langsung oleh tokoh
Jantuk. Bisa dikatakan, tokoh Jantuk yang memegang plot atau alur cerita
seperti layaknya sutradara. Peran tokoh Jantuk sebagai pemimpin sebuah cerita
adalah apabila ada pemain yang keluar plot, maka tokoh Jantuk lah yang
mengingatkan para pemain untuk kembali ke dalam plot atau alur cerita tersebut
dengan mengingatkan seorang pemain untuk melanjutkan cerita. Biasanya saat
Jantuk bermain ada kalanya dia berimprovisasi dan plot untuk memanjangkan
durasi atau untuk mencari lawakan, lelucon, dan menaikkan emosi sebuah cerita. (aj/ziz)
Sanggar Seni Budaya Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena Pimpinan Nasir Mupid Didirikan 5 Agustus 1983 Di Jl. Ciledug Raya Gg. H. Syatirih No. 88 RT. 002/03 Ulujami Pesanggrahan Jakarta Selatan
Rabu, 07 Mei 2014
Cerita Pada Topeng Blantek
Cerita Topeng
Blantek pada umurnnya membawakan cerita-cerita legenda masyarakat Betawi.Tetapi
pada saat ini cerita Topeng Blantek tidak harus lagi cerita legenda,
ceritanya pun bisa mengenai apa saja yang penting terdapat unsur hiburan,
lawakan, penerangan, dan pendidikan serta dakwah. Unsur-unsur cerita Topeng Blantek adalah cerita rakyat Betawi, cerita legenda
Betawi (misalnya: Pitung, Jampang, Jantuk, dan lain-lain), Cerita
yang dibawakan cerita apa saja yang penting ada tokoh Jantuk yang menjadi
dalang Topeng Blantek (bahkan cerita teater modern sudah sering dibawakan Topeng
Blantek tetapi harus diadaptasi ulang ke dalam bentuk cerita rakyat Betawi). Cerita
dan pertunjukan Topeng Blantek tidak memiliki naskah yang tertulis. Namun
perkembangan Topeng Blantek zaman sekarang, cerita tersebut memiliki naskah
yang tertulis dan naskah tersebut hanya bagian plot-plot sebagai alur cerita
untuk para pemain. Ada pula yang sudah menggunakan naskah tertulis dengan dialog
yang rapih tetapi biasanya pemain Topeng Blantek tidak terbiasa untuk mengikuti
dialog atau kata- kata yang tertulis di dalam naskah tersebut, mereka lebih
terbiasa dengan improvisasi dan cerita foklor (cerita rakyat turun-temurun).(aj/ziz)
Sastra Pada Topeng Blantek
Topeng Blantek memiliki sastra
dan bahasa tersendiri dalam pertunjukannya. Sastra pada Topeng Blantek ini
memiliki ciri khas bentuk sastra, sebagai berikut : bahasa yang digunakan,
cerita yang dibawakan, penggarapan cerita, alur cerita, dan pantun dalam pertunjukannya.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian masyarakat Jakarta yang dikenal
dengan sebutan bahasa Betawi dan Sunda. Betawi memiliki daerah atau lingkungan
bahasa suku kentalnya, yang terdiri dan Betawi tengah dan Betawi pinggir.
Bahasa Betawi tengah cininya setiap kata-kata yang berakhiran vokal A diganti
menjadi vokal E, misalnya kata kemana menjadi kemane. Dan bahasa Betawi pinggir cirinya setiap
kata-kata yang berakhiran vokal A diganti menjadi vokal AH, misalnya : kata
kenapa menjadi kenapah dan orang Betawi pinggir menyingkat kata tersebut
menjadi napah. Dan bukan hanya bahasa Betawi pinggir saja yang digunakan oleh
pelaku Topeng Blantek, terdapat pula bahasa Sunda keseharian yang kasar dalam
pertunjukan Topeng Blantek, misalnya : kehet, piru yaitu cacian atau bahasa
Sunda kasar yang biasa digunakan masyarakat Betawi.(aj/ziz)
Perkembangan Topeng Blantek
Pada tahun 1972 Topeng Blantek mulai berkembang
melalui Festival Topeng Blantek di Jakarta yang diadakan oleh Pemda DKI
Jakarta, kemudian Festival Topeng Blantek diadakan kembali pada tahun 1993.
Festival dimaksudkan untuk meregenerasi, memberi dorongan moriil, memotivasi
untuk berkreasi, dan memperluas penyebaran Topeng Blantek. Tokoh yang
mengembangkan Topeng Blantek yaitu almarhum Ras Barkah. Topeng Blantek kurang mendapat
perhatian dari Pemprov DKI Jakarta, sehingga mengakibatkan masyarakatnya kurang
mengenal Topeng Blantek. Hanya Lenong yang sering kali ditonton oleh masyarakat
Jakarta, sehingga pertunjukan-pertunjukan teater rakyat Betawi lainnya tetap
dikenal dan disebut Lenong oleh masyarakat. (Wawancara, Nasir Mupid, Topeng
Blantek FIS, 10-2-2012). (aj/ziz)
Topeng Blantek Menurut Riwayat
Marhasan, Pimpinan Topeng Blantek Pangker Group Semanan, Jakarta Barat, mengatakan
bahwa permainan Blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara hanya
memberikan gagasan-gagasan garis besar dari cerita yang akan dimainkan” (beritajakarta.com, 2008/2-2-2012). Menurut Achmad Syarozi seorang putra
Betawi bahwa pada mulanya Topeng Blantek berasal dari Topeng dan Blantek, yaitu perpaduan antara Topeng
Betawi dan Blantek” (Wawancara, Achmad Syarozi, Tokoh Betawi, Pasar Minggu,
1-3-2012). Namun menurut Nasir Mupid Pimpinan Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena
Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa Topeng Blantek merupakan induk dari teater
rakyat Betawi, karena Topeng Blantek memiliki apresiasi seni yang terdapat di
teater rakyat Betawi lainnya. Asal
mula Topeng Blantek menjadi sebuah pertunjukan berawal dari para pedagang di
jajaran wilayah Jakarta di mana terdapat suku Betawi. Para pedagang tersebut
yang menjual dagangannya melalui celotehan. Tutur
kata yang diucapkannya itu, kemudian menjadi sebuah pertunjukan.
Pedagang tersebut kebanyakan para ahli agama Islam
yang akhirnya mempergunakan Topeng Blantek sebagai penyebaran agama Islam kepada masyarakat” (Wawancara, Nasir Mupid, Topeng Blantek FIS,
2-2-20 12). (aj/ziz)
Apresiasi Topeng Blantek
Topeng Blantek merupakan teater rakyat Betawi
yang kini tidak dikenal masyarakat luas. Hanya sebagian masyarakat Betawi yang
mengetahui teater rakyat Topeng Blantek. Banyak pula artikel dan pendapat-pendapat
yang berbeda tentang Topeng Blantek, bahkan berbeda pendapat tentang definisi
dan sejarah singkat Topeng Blantek. Asal-usul nama kesenian ini berasal dari
dua kata, yaitu Topeng dan Blantek. Istilah Topeng berasal dari bahasa Cina di
zaman Dinasti Ming. Topeng asal kata dari To dan Peng. To artinya sandi dan
Peng artinya wara. Maka Topeng itu bila dijabarkan berarti sandiwara. Sedangkan
untuk kata Blantek ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari
bunyi-bunyian musik yang mengiringinya. Yaitu satu rebana biang, dua rebana
anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, ‘blang-blang tek-tek’. Namun,
karena lidah ingin enaknya saja dalam penyebutan, maka muncullah istilah
Blantek.(aj/ziz)
Langganan:
Postingan (Atom)




